Thursday, October 4, 2012

TATAP MATA SENTUH JIWA

TATAP MATA SENTUH JIWA

(Sebuah teknik mengajar)
Oleh : Titien Mulyani (Guru SDN Gunung Makmur I, Kab. Tanah Laut)
Latar Belakang
Guru adalah pekerja yang dituntut memiliki kemampuan khusus selain mengajar yaitu memberi pelajaran berupa ilmu pengetahuan terutama guru SD. Seorang guru harus menguasai semua bahan ajar mulai Matematika, Bahasa, IPA, IPS, Mulok. Semua pelajaran harus dikuasai terlebih Agama harus ditekankan pada amaliah kehidupan supaya anak bisa memiliki budi pekerti yang luhur lewat pendidikan kontektual. Di desa seperti penulis, sekolah rata-rata masih memakai guru kelas. Karena guru di setiap sekolah di desa terbatas jumlahnya dan latar belakang keilmuannya. Selain mengajar, guru juga harus memiliki kemampuan mendidik. Mendidik adalah membekali murid dengan membiasakan hidup mensyukuri nikmat dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pengertian murid dibiasakan untuk hidup bertata krama, bersopan santun dan bersikap terbuka.
Sikap terbuka adalah sikap sportif, jujur menghadapi kenyataan hidup baik itu kenyataan baik atau buruk. Anak dibiasakan berusaha dan bekerja keras mengatasi setiap masalah pantang menyerah, ulet, tetapi bersikap ceria dan humoris kelihatannya mengajar dan mendidik bukan hal sulit. Guru harus terbiasa mengevaluasi diri karena guru selalu dituntut untuk merefleksi segala yang telah dikerjakan. Sehingga apa yang terasa masih kurang dapat dikaji ulang dengan memberi pengayaan. Oleh sebab itu seorang guru harus memiliki trik-trik praktis yang bisa digunakan di lapangan untuk memudahkan pekerjaan dalam menghadapi anak yang punya akal, kemauan, perasaan, pemikiran dan latar belakang orang tua yang berbeda. Jadi pekerjaan sebagai guru adalah suatu pekerjaan rumit yang terlihat sepele. Guru mengajar satu kelas minimal diisi oleh 30 orang murid dengan karakter anak yang berbeda, lingkungan anak yang berbeda.
Hal tersebut cukup membuat guru sibuk menguasai kelas ketika pembelajaran berlangsung. Murid dengan tingkat lQ dan EQ yang berbeda merupakan masalah bagi setiap guru.
Melihat kenyataan ini maka penulis mencoba mencari jalan keluar dengan mempelajari serta membuat uji coba dan meneliti di lapangan bahwa seorang guru harus memiliki cara mengajar yang mudah, efektif serta bisa menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan, ada interaktif antara guru dan murid, sehingga terjalin komunikasi dari guru dengan murid, murid dengan murid, murid dengan guru. Tatap mata sentuh jiwa adalah pembiasaan pendekatan atau teknik mengajar yang digunakan penulis. Selama pembelajaran berlangsung ternyata mampu membuat murid betah belajar dan proses mengajar pun bisa berlangsung dengan sangat menyenangkan, sehingga guru mampu menjadikan anak didik yang ber-IQ (kecerdasan intelektual), ber-EQ (kecerdasan emosional), dan ber-SC (kecerdasan spiritual) sesuai dengan tuntutan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang berpedoman kepada BSNP (Badan Standar Pendidikan 2006).
Mengajar Dengan Teknik Tatap Mata Sentuh Jiwa
Seharusnya seorang guru memilih pekerjaan menjadi guru bukan karena pelarian atau jalan pintas cara mudah mencari kerja. Karena lapangan kerja sebagai guru tersedia banyak. Sekararig ini banyak orang memilih menjadi guru karena ingin cepat kerja, tetapi lupa bahwa guru bukan hanya sebagi pekerjaan namun merupakan suatu profesi yang menuntut profesionalisme yang mana guru harus memiliki pembawaan yang khas, berbakat, ikhlas dan sabar. Keikhlasan merupakan modal dasar yang utama. Seorang guru dalam melaksanakan tugas harus ikhlas tanpa pamrih, pengabdian, ramah, penuh kasih sayang, adil, murah senyum, hangat dan humoris serta belas kasih.
Guru harus mempunyai pembawaan low profile artinya guru bisa bergabung dengan murid, bisa menyatu dengan murid bisa tut wuri handayani, ing ngarso sing tulodo, ing madya mangun karso, Guru bersatu dengan murid memberi contoh, bisa melindungi, bisa memberi semangat dan dapat memperlakukan semua murid dengan adil dan kasih sayang.
Tatap mata sentuh jiwa digunakan penulis dalam menghadapi murid-muridnya. Setiap kesempatan berpapasan dengan murid baik di dalam atau di luar kelas dilakukan pembiasaan menatap murid langsung ke mata, sehingga terjadi adu tatap, dilanjutkan dengan pemberian secercah senyum diikuti dengan menyapa sebagai penyentuh jiwa. Secara spontan anak akan membalas sapa guru dengan penuh hormat. Di dalam kelas, tatap mata sentuh jiwa tetap digunakan. Tatap mata guru menyentuh jiwa murid, tatap mata murid menyentuh jiwa guru
sehingga terbuka komunikasi, guru mampu membaca jiwa anak. Akhirnya ada kontak bathin lewat tatap mata sentuh jiwa. Di sini akan kita dapati seni mengajar dan belajar yang menyenangkan. Situasi pembelajaran yang bagaimanapun sulitnya akan tetap dihadapal murid dengan semangat karena mereka merasa adanya kontak batin dan perhatian.
Apakah mereka takut dengan materi sulit? Tidak karena guru siap menerangkan apabila murid mendapat kesulitan. Dengan tatap mata sentuh jiwa membuat mengajar menjadi hal yang menyenangkan karena sikap kita, cara pendekatan kita, sikap anak dan kedekatan mereka ke kita membuat hati kita senang dan anak senang. Memudahkan pemberian materi kepada anak dan membuat anak betah belajar, suasana belajar mengajar menjadi menyenangkan dan menarik.
Kekuatan Penggunaan Tatap Mata Sentuh Jiwa
Penulis pernah mencoba teknik penggunaan tatap mata sentuh jiwa pada murid kelas 1. Setiap pagi ketika bel berbunyi guru sudah siap di depan kelas. Murid masuk ke dalam kelas dengan tertib sambil bersalaman dengan guru. Disini terjadi kontak yaitu guru menatap murid dan murid menatap guru dan saling memberikan senyum, memamerkan gigi.
Ada dua keuntungan dan pembiasaan ini:
  1. Dari pameran gigi bisa dilihat apakah anak sudah menyikat giginya atau belum.
  2. Dari bersalaman terjadi sentuhan antara murid dengan guru, sehingga guru dapat merasakan keadaaan anak apakah anak sehat atau sakit, sudah makan atau belum . Jika ada murid yang sakit dipulangkan Iebih awal, sehingga pada proses pembelajaran di kelas dapat berjalan lancar.
Pembiasaan-pembiasaan guru dalam proses pembelajaran dengan tatap mata sentuh jiwa bisa membuat 25 murid dan 30 murid di kelas 1 mampu membaca dan menulis indah dengan baik dalam waktu 6 bulan, sedangkan 5 murid Iainnya tidak mampu karena ada kelainan.
Guru adalah jiwanya pendidikan. Komunikasi harus di buka antara guru dan murid. Bukan murid harus mendekati guru. Tetapi guru harus lebih dahulu membuka jalur komunikasi kepada murid.
Dengan tatap mata sentuh jiwa ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan, karena pembiasaan ini membawa akibat:
  1. Murid hormat, segan, dan dekat dengan guru
  2. Sopan santun dapat dibiasakan karena kita memberi contoh langsung membiasakan diri bersikap sopan dengan sapaan ramah dan senyum ringan
  3. Situasi pembelajaran yang tidak membosankan dapat diciptakan. Sesulit apapun materi yang dihadapi, murid tetap bersemangat karena murid merasa senang, diperhatikan dan didampingi
    guru yang siap membantu menjelaskan apabila ada materi yang sulit.
  4. Saling sharing, memberi dan menerima. Belajar serius dengan sikap santai tanpa beban yang penting usaha dengan kerja keras sudah dilakukan. Nilai bukanlah tujuan tetapi kemampuan untuk bersikap mandiri dan berkompetensi itu yang perlu ditanamkan dalam prinsip hidup murid.
Dengan tatap mata sentuh jiwa, kelas bukanlah penjara seperti yang disebutkan WS. Rendra. Kelas adalah bursa tempat manusia belajar, bertukar ilmu, mencari nilai, menguji kemampuan, berkomunikasi, mencari bekal ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Andaikan semua guru bisa menggunakan teknik mungkin tawuran dan narkoba tidak akan merambah anak anak  remaja kita. Guru mampu menjadi tempat bercerita dan tempat bertanya bagi munid, sehingga anak-anak remaja tidak akan terperosok ke jalan yang salah karena guru sudah memberi bimbingan dan arahan hidup yang benar.
Penutup
Tatap mata sentuh jiwa apabila digunakan di dalam pergaulan sehari-hari dapat membuat kita disenangi orang di manapun kita berada. Tatap mata orang dengan lembut, beri senyum ramah maka orang yang jiwanya sehat pasti akan membalas tatap mata dan senyum kita. Tapi hal ini tentu saja tidak bisa digunakan pada orang yang jiwanya sakit.
Sumber Buku dari Tatap Mata Sentuh Jiwa adalah kitab Al-Quran dan terjemahannya terbitan Departemen Agama RI. Surah A1-Alaq (segumpal darah) terdiri atas 19 ayat. Termasuk juga surah Iqra (Bacalah) dan A1-Qalam (Kalam) dan dari sikap jemaah orang Islam, Kalau bertemu dan berpisah dalam berjemaah saling tatap ketika bersalaman dan menyebut nama Allah.
(Mahing // Edisi III )